Imlek dan Grebeg Sudiro sebuah akulturasi budaya

Jika anda ingin merasakan tahun baru imlek yang berbeda mungkin kota Solo adalah tempatnya. Di Solo setiap tahunnya ketika imlek tiba di adakan Grebeg Sudiro Imlek. Acara ini mulai tanggal 31 Januari hingga 8 Februari di kawasan Pasar Gede. Kata grebeg dalam bahasa Jawa sering digunakan untuk menyambut hari-hari khusus seperti Maulid Nabi, Syawal, Idul Adha dan Suro. Sementara Sudiro berasal dari kata Sudiroprajan. Kawasan Sudiroprajan sendiri merupakan sebuah kelurahan di kecamatan Jebres, Solo. di kawasan ini warga Peranakan Tionghoa telah puluhan tahun menetap dan tinggal berdampingan dengan masyarakat Jawa. Seiring berjalannya waktu banyak terjadi perkawinan antara kedua etnis yaitu Jawa dan Tionghoa yang kemudian menciptakan generasi baru. Dan untuk menunjukkan akulturasi budaya maka terciptalah perayaan Grebeg Sudiro ini. Di acara Grebeg Sudiro ini anda akan menikmati  beragam kesenian mulai dari barongsai, tarian, pakaian tradisonal, adat keraton, dan juga kesenian kontemporer yang digelar di sepanjang Jalan Sudiroprajan. Atraksi yang paling menarik disini adalah arak-arakan gunung  yang disusun dari ribuan kue keranjang, yaitu kue khas orang tionghoa saat menyambut imlek. Gunungan ini akan di arak di kawasan Sudiroprajan diikuti pawai dan kesenian tionghoa dan jawa.

Arak-arakan tersebut nantinya akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie di depan pasar Gede. Akhir dari perayaan ini nantinya akan ditandai dengang menyalanya lampion yang digantung di atas gerbang pasar Gede. Penyalaan lampion ini juga serempak di lakukan di beberapa tempat di kota Solo. seperti perayaan lainnya di Solo Grebeb Sudiro ini pun ditandai dengan perebutan makanan dari gunungan. Tradisi rebutan ini didasari oleh falsafah Jawa “ Ora babah ora mamah” yang artinya kalau tidak berusaha maka tidak akan makan. Sedangkan bentuk gunung memiliki filosofi bahwa masyarakat Jawa senantiasa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta. Perayaan Grebeg Sudiro ini mencerminkan bahwa baik etnis Jawa dan Tionghoa hidup berdampingan dalam satu lingkungan yang diwarnai oleh tradisi saling menghargai. Menjelang prosesi ini kedua etnis ini biasanya saling membantu untuk mempersiapkan ritual sebagai bentuk syukur kepada alam semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *