Menara Sanggabuana Kraton Solo

Menara Sanggabuana adalah bangunan yang paling tinggi diantara bangunan lainnya di kawasan Keraton Kasunanan Solo. Menara Sanggabuana adalah bangunan yang berdiri saat kepemimpinan Sri Susuhan Paku Buwono II pada tahun 1782 Masehi. Tahun pembuatan menara ini ditandai dengan sengkalan milir Naga Muluk Tinitihan Janma yang artinya bangunan itu didirikan pada tahun 1782 Masehi atau 1708 penanggalan Jawa. Sengkalan milir memang sengaja dibuat sebagai tradisi keraton untuk senantiasa mengingatkan berdirinya sebuah bangunan yang didirikan di lingkungan keraton. Pada puncak menara yang bentuknya seperti topi bulat terdapat satu buah hiasan naga yang memakain mahkota yang dikendarai oleh manusia yang sedang memanah. Bentuk hiasan ini bukanlah sekadar hiasan karena memiliki arti sebagai ramalan tahun kemerdekaan Indonesia yang diramalkan akan merdeka tahun 1945 namun hal ini sangat dirahasiakan dari para penjajah karena akan menimbulkan bahaya jika mereka mengetahuinya. Naga diartikan sebagai rakyat jelata dan mahkota adalah kekuasaan, kekuasaan ada pada rakyat. Manusia mengendarainya dengan posisi memanah artinya manusia siap-siap melepaskan sasaran, kapan tepatnya kekuasaan berada ditangan rakyat. Selain itu fungsi lainnya adalah untuk mengetahui arah mata angin dan tiang yang ada di puncaknya digunakan untuk penangkal petir. Menara Sanggabuana tingginya sekitar 30 meter, dengan tingkat 4. Di tingkat ketiga terdapat sebuah jam besar yang menghadap utara dan dapat berbunyi sendiri. Sedangkan pada tingkat yang paling atas digunakan sebagai tempat meditasi, sesaji,tempatĀ  berinteraksi para raja dengan Ratu Kidul, dan juga sebagai tempat untuk memantau keadaan kota Solo. Di dalam masyarakat Solo terdapat satu kepercayaan bahwa semua bangunan di kota Solo tingginya tidak boleh melebihi tinggi menara Sanggabuana sebab mereka menghormati raja dan percaya akan aktifitas yang terjadi diatas menara dan bila mereka melanggar keercayaan ini maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan

Menara Sanggabuana dipercaya memang sebagai tempat bertemunya raja-raja Solo dengan Ratu Kidul. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Menara Sanggabuana persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo menuju Wonogiri. Konon katanya Ratu Kidul datangnya dari arah Selatan. Meski pernah terbakar pada 1954, namun dibangun kembali pada 1959. Sebelum terbakar bentuk atap dari menara dinamai tutup saji, karena atapnya berbentuk segi delapan. Tapi setelah dibangun kembali atapnya dibentuk seperti payung yang sedang terbuka.

Wisatasolo menyediakan sewa mobil di Solo dan akan mengantarkan anda menjelajahi Solo raya, mari ke Solo bersama Wisatasolo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *