Wisata Candi Sukuh

Bila telah puas berkunjung ke Candi Cetho, belum lengkap rasanya bila tidak mengunjungi Candi Sukuh. Salah satu candi yang juga berada di Jawa Tengah ini  juga merupakan peninggalan agama Hindu. Di pertengahan abad ke-15 Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran akibat masuknya agama Islam. Lalu di saat itu penguasa Majapahit mendirikan Candi Sukuh sebagai tempat sakral untuk memuja para arwah leluhur dan sebagai perlambangan kesuburan. Jadi tidak heran bila di candi ini ditemukan banyak relief lingga dan yoni yang merupakan perlambangan alat kelamin pria dan wanita. Candi sukuh berbeda dengan kebanyakan Candi agama Hindu yang biasanya menghadap ke arah terbitnya matahari. Melainkan menghadap ke arah barat. Selain itu bentuk bangunnya juga lebih mirip bangunan suku Maya di Amerika Selatan yang bentuknya menyerupai Piramida terpotong yang dikelilingi oleh monolit dan patung-patung besar. Bentuk bangunan candi Sukuh lebih mirip trapesium dengan tiga teras bertingkat dengan satu anak tangga di bagian tengah sisi depan candi.

Bila memasuki pintu utama area candi yaitu lewat gapura besar maka kita akan diajak melihat bentuk arsitektur khas yang disusun tegak lurus namun agak miring. Batu-batuan di candi berwarna agak kemerahan dikarenakan batu-batu ini adalah batu andesit. Di teras pertama ada gapura yang terdapat sangkala dalam bahasa Jawa yang bunyinya “gapura buta abara wong” artinya gapura sang raksasa memangsa manusia. Kemudian di teras kedua agak sedikit rusak , di sebelah kanan dan kiri gapura biasanya ada patung penjaga pintu namun kini keadaaanya sedikit rusak dan bentuknya juga sudah tidak jelas lagi. Di teras kedua ini banyak terdapat patung-patung  dan terdapat candrasangkala dalam bahasa Jawa “ Gajah wiku anahut buntut” artinya Gajah pendeta menggigit ekor. Lalu pada teras ketiga dari candi sukuh ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan.

Bila ingin melihat induk yang suci tersebut pengunjung harus terlebih dahulu melewati teras sebelumnya dengan lorong yang sempit. Candi induk ini berbentuk vagina dan katanya memang di peruntukkan untuk mengetes keperawanan para gadis. Jika gadis yang mendaki masih perawan maka akan baik baik saja. Sementara jika gadis yang mendaki sudah tidak perawan maka kain yang di pakainya akan sobek dan lepas. Selain candi ada juga relief Bima yang menempa keris bersama Ganesha dan Arjuna, ada juga relief Dewi Kala dan lain-lain. Untuk menuju candi ini bisa menggunakan mobil rental dari WisataSolo .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *